Sedang Ramai bahas "mendadak agamis"
rupanya...
Urang Bogor mengutip dan membahas tulisan ini karena hal-hal yang berkaitan dengan isu yang sedang cetar membahana saat ini..
Saya (Red) sebagai anti mainstream (keleus) melihat bahwa ini tergantung perspektif. Komentar becandaannya ya menambah frasa baru aja karena mendadak yang terkenal di Indonesia sebenarnya hanya "mendadak dangdut" , sementara mendadak yang lain yang terkenal adalah "sambel dadak"....
sementara kalau dikomentari serius diluar konteks
"pencitraan", bahasa "mendadak agamis" dapat diartikan
"mendapatkan pencerahan agama" atau "berubah perilaku menjadi
lebih baik secara agama" dan semua orang saat ini (termasuk saya) di bulan
ramadhan sedang berusaha "mendadak agamis" artinya tidak semua
diartikan buruk seharusnya.
Dan perubahan ke arah yang baik seharusnya didukung. Apapun bentuk dukungannya. Selain itu sulit juga mengukur kadar terlihatnya ibadah sebagai dasar keimanan. Karena sebelumnya orang tidak tahu dan tidak peduli mendadak jadi ingin tahu dan ingin peduli. Mudah-mudahan tidak ada yang memperdulikan ibadah saya kecuali Allah atau guru yang ingin memperbaiki ibadah saya menjadi lebih baik.
Dan perubahan ke arah yang baik seharusnya didukung. Apapun bentuk dukungannya. Selain itu sulit juga mengukur kadar terlihatnya ibadah sebagai dasar keimanan. Karena sebelumnya orang tidak tahu dan tidak peduli mendadak jadi ingin tahu dan ingin peduli. Mudah-mudahan tidak ada yang memperdulikan ibadah saya kecuali Allah atau guru yang ingin memperbaiki ibadah saya menjadi lebih baik.
Sementara dalam konteks "mendadak
agamis" sebagai "pencitraan", saya jadi ingat cerita guru-guru
saya tentang "mendadak rajiin ke mesjid karena mengincar anak gadis pa
ustad". kayaknya ini masih sering ada di sinetron indonesia ya. Guru saya
mengatakan bahwa ini adalah riya namun masih bisa ditolerir. Saya bertanya
kenapa, kan riya tidak bagus? Guru saya menjawab, karena lebih mudah
mengajarkan dirinya dan meluruskan niatnya di mesjid dibandingkan orang yang
tidak mau sama sekali mendekati ibadah. Dan tugas guru adalah meluruskan bukan
menghukum. karena menghukum adalah tugas Allah di akhirat dan tugas hakim di
dunia. Apalagi mempengaruhi orang lain untuk menjauhi dan mengucilkan
"orang berdosa". Sebuah tugas yang sulit.
Mudah-mudahan sebagai murid dari guru-guru saya,
saya bisa selalu berperan untuk mendidik, meluruskan dan membantu sesama dan
tidak menghakimi. Mudah-mudahan saya di bulan puasa ramadhan ini dapat menjaga
laku lampah dan membawa suasana bulan puasa ramadhan ke dalam hati selalu,
sehingga dapat menjalankan pesan penting para guru yaitu "ramadhan kan
selalu hatimu" walaupun bukan di bulan ramadhan.
0 comments:
Post a Comment